Alkisah Pulang dan Pergi
Ketahuilah, kita sedang dalam perjalanan pulang, kawan. Pulang menuju hakikat sebenarnya. Kembali dari asam manisnya kehidupan dunia. Meski kau bahagia, itu hiburan semata. Karena sejatinya, kelak suatu hari nanti kita akan benar benar pergi meninggalkan semua fatamorgana yang ada.
Jika demikian, untuk apa kita hidup di dunia bila kelak kembali ke tempat asal?
Biarkan aku berkisah sejenak.
Bagiku, sistem pendidikan Indonesia ini begitu rumit. Kita diharuskan dan wajib berada di bangku sekolah formal selama dua belas tahun lamanya, dan mempelajari semua yang ada namun tak menguasai bidang yang benar ingin diminati. Bayangkan, lalu untuk apa semua itu bila tak dapat diamalkan seluruhnya? Karena kita pelajar dituntut untuk menjadi multi-talent. Menjadi 'robot' pendidikan. Sebagai contoh, mengapa tak kita turut menerapkan sistem pendidikan Finlandia? Dimana para pelajar memiliki waktu lebih banyak untuk mengambangkan diri mereka ketimbang mempelajari yang tidak mereka minati. Dengan begitu, pelajar tersebut dapat fokus dan menguasai bidangnya. Entahlah, mungkin kita masih mengekor nenek moyang atau ada hal yang tak dapat diserupakan.
Sepulang sekolah pukul 16.00, teman temanku pulang ke rumah atau melanjutkan bimbingan belajar mereka. Namun tidak denganku. Aku tidak mengikuti les atau bimbingan belajar apapun. Sepulang sekolah, aku lalu menghadiri kumpulan organisasi yang aku ikuti. Membahas program program yang akan dilaksanakan. Jasmaniyah, memang lelah kawan. Aku sering izin dari kelas untuk mengurus berbagai macam hal menyangkut organisasi, sehingga banyak mata pelajaran yang harus ku kejar sebelum menumpuk tak tersentuh. Namun bila diniatkan sebagai sarana ibadah, seluruh lelah ini menjadi lillah. Dimana hanya satu yang diharapkan, yaitu ridho-Nya.
Pernah suatu hari, aku ditanya, "mengapa kamu mengikuti organisasi dan malah membuat lelah diri sendiri?". Karena ini cara mempersiapkan diriku untuk 'pulang' dan mencari bekal sebanyak banyaknya. Pergi pagi hariku dari rumah, aku selalu bertanya pada diri sendiri, adakah hal lain yang harus aku lakukan sehingga aku akan izin dari kelas lagi? Sekali lagi aku katakan, cara setiap insan mempersiapkan dirinya untuk 'pulang' berbeda beda. Dan inilah caraku.
Maka bila ku tarik kesimpulan dari pertanyaan di awal akan terdengar seperti ini:
Percuma bila kau tinggal dan diam di rumah mewah meski tak miliki satu perabotan atau bahkan persediaan makanan. Pasti kau akan keluar untuk bekerja agar dapat membeli itu semua, lalu kembali menikmati apa yang telah didapatkan. Bila kau pergi keluar mencari sampah, kau akan kembali dengan sampah ditanganmu, itu sia sia. Bila kau pergi mencari nasi, maka kau akan kembali dengan nasi ditanganmu dan merasa kenyang. Itu maksudku.
Dan aku kini, sedang pergi keluar dari rumah untuk mencari nasi, dan akan kembali ke rumah dengan senang hati, suatu hari nanti.

Comments
Post a Comment