I Wasn't Me

BE YOURSELF.
Terdengar lazim. Semua orang tau pasti frasa ini. Yang berarti jadi dirimu sendiri. Kamu harus menjadi siapa kamu dimanapun itu, kapanpun itu. Karena sejatinya, kamulah yang paling mengenal siapa kamu sebenarnya.

Yes, i am an introvert now! Menjadi seorang introvert berarti tak terbuka pada orang lain, cenderung sering mengabaikan chat dari orang orang, lebih suka stay di rumah daripada hangout, dan "nampak" kesulitan bersosialisasi bahkan prevent untuk sekedar basa basi. Begitupun aku. Sering banget orang bilang kalo chat ke aku itu bisa bisa dibales sehari apa dua hari setelahnya, fyi emang tenggelam dimakan OA ato emang lagi gak mood aja. Menjadi introvert adalah pilihan dan bukan pilihan. For fact, aku gak gini dulu. Dulu aku seorang ekstrovert. Karena ada tragedi yang benar benar merubah 180 derajat pola pikir, tanpa disadari menjadi introvert adalah aku kini. Berfikir bahwa menutup diri akan lebih baik dari bersosialisasi dengan alibi takut sekali bila tragedi itu terulang dan kapok untuk merasakan hal sama untuk kesekian kalinya.

Dan sebenarnya, aku salah beranggapan. Seharusnya aku jadikan pelajaran dan acuan dari tragedi itu. Bukan malah merubah siapa aku. Akupun cenderung menjadi listener daripada speaker kini. Berlagak baik didepan meski rapuh didalam, karena siapa bakal peduli? Siapa yang tahu apa yang terjadi? Ada yang peduli? Bodo amat lah. 

Itu semua mindset klasik. Mindset yang justru akan menjatuhkan kita sedikit demi sedikit karena adat bodo amat dan gamau tau itu, buat kita mengabaikan apa yang seharusnya dipedulikan. Kesal bukan, bila kita yang diabaikan? Hidup ini berlaku karma didalamya. Apa yang kita buat, itu yang akan kita tuai.

Actually, tidak salah menjadi introvert, ekstrovert, atau ambivert. Semua ini bermuara bahwa kita harus tahu lingkungan. Memang, menjadi siapa kita adalah hal penting. Namun, itu akan menjadi boomerang bila kita menempatkannya ditempat yang salah. Karena apapun yang terjadi tidak selalu sejalan dengan kehendak kita, alangkah baiknya bila kita yang mengalah pada lingkungan, namun tetap teguh akan siapa kita. Sebagai contoh sederhana, seorang extrovert yang ceria tak perlu membuat lawak atau bernyanyi riang dalam forum resmi seperti saat sedang rapat. Namun diluar itu, ia bisa bebas mengekspresikannya. Catch up?

Bolehkah disebut sebagai kepribadian ganda? Maksudku, kita marah di tempat seharusnya, menangis di tempat seharusnya, dan gembira di tempat seharusnya. Kita tau siapa kita sebenarnya. Tak perlulah beralibi "karena aku emang gini orangnya!", mulailah berbaur dengan seluruh aspek yang ada. Karena sekali lagi, hidup tak selalu sejalan dengan kehendak kita.

Still, BE YOURSELF AND BE THE BEST YOU CAN BE.
I Luv yaa!

Comments

Popular Posts