Pembawa Mimpi Generasi Milenial
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Guru adalah orang yang bermata
pencahariannya mengajar. Hanya itu katanya. Entah mengajar di sebuah instansi
swasta maupun negeri. Namun bagi saya, guru bermakna lebih dari sekedar pemahaman
KBBI.
Menurut
hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi, bahwasanya Rasulullah
saw. pernah bersabda “Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah
para syuhada”. Dari hadist ini, sudah jelaslah bahwa menjadi seorang guru
memiliki martabat yang mulia. Namun sayang beribu sayang, generasi milenial
kini cenderung memandang rendah para guru. Terutama adab. Bagus bila murid dan
guru memiliki relasi yang baik dan saling menjadi kawan bercerita, namun miris
melihatnya ketika guru malah menjadi bahan olokan. Lupakah mereka siapa yang
membimbing mereka agar dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Lupakah
mereka siapa yang siapa yang membimbing mereka menuju cahaya yang lebih terang?
Ketika ditanya apa cita-citanya
kelak, mayoritas menjawab bukan sebagai guru. Alasan yang diberikan karena
berpenghasilan lebih daripada menjadi seorang guru. Karena di Indonesia
sendiri, kehidupan yang diberikan kepada guru memang kurang terjamin. Indonesia
ingin menjadi negara yang maju, salah satu langkahnya adalah dengan memajukan
generasi mudanya. Namun sayang, jasa para guru tak terbalas semestinya. Jadi
apa boleh buat, bila guru saja kurang dihormati? Padahal tanpa disadari, guru
adalah kunci yang membuka banyak profesi lain. Dengan memberi arahan pada kita
mana dan apa hal yang lebih baik yang seharusnya kita lakukan kedepannya, karena
seorang guru sangat menekankan masa. Masa lalu, masa kini, serta masa depan.
Menekankan masa lalu berarti bertekad bahwa semua kesalahan yang ada dahulu
takkan terjadi pada generasi selanjutnya. Caranya dengan membimbing mereka
dengan hasan kini. Agar mereka menjadi lebih baik di masa depan kelak.
Guru adalah orang yang
benar-benar berjasa dalam pembentukan karakter. Dari sinilah awal mula
membentuk generasi yang lebih baik. Membentuk karakter yang baik ialah
menerapkan adab dalam keseharian siswanya. Mengapa adab? Dalam Mahfuzhot Bahasa
Arab tertulis, karena adab nyatanya lebih mulia dibanding emas. Guru juga
merupakan jembatan penghantar jutaan mimpi. Yang membawa hujan menuju pelangi.
Gelap gemuruh tak tentu arah, berakhir pada indah tujuh warna. Membawa ceria
seluruh insan yang ada. Bagai mentari, guru menyinari kami yang tenggelam dalam
kegelapan malam. Membuka mata hati kami agar melangkah lebih jauh lagi.
Maka bagi saya, guru lebih
istimewa dari yang tersurat dalam KBBI. Bagiku, gurulah yang membawa terbang
mengangkasa mimpiku, mimpimu, dan mimpi generasi milenial.
Comments
Post a Comment