Orang Rumahan


Kau lirik jarum jam. Menghela napas sembari menggerutu sendiri. Secepat inikah waktu berlalu? Sudah mau tengah malam saja rasanya. Engkau yang sedari pagi merebah diatas kasur baru menyadarinya. Akhirnya, kau putuskan untuk membuka Instagram. Iseng saja berselancar jarimu dilayar. Wah.. foto-foto kawanmu bagus, pandai sekali sudutnya ia ambil, eh lihat! baju-baju yang ia pakai juga lucu sekali! kau jadi ingin sekali memakai apa yang ia pakai. Selain itu, beranda Instagram-mu dipenuhi oppa-oppa yang bernyanyi, fancam-fancamnya, atau fakta-fakta tentangnya. Baiklah, kini kau mulai membuka story-nya. Lagi-lagi, kau bergumam,'wah.. hebat sekali dia jalan-jalan melulu! bahagia sekali hidupnya.'. Seketika itu kau melihat ia yang sedang berlibur ke tempat berlatar indah tertawa bersama kawannya. Iri sekali kini yang dirasa. Lalu tetiba, kau berpikir,'libur sepanjang ini, tentu saja mereka pergi berlibur! bersenang-senang! lantas, apa yang selama ini aku lakukan? rebahan di atas kasur sepanjang hari? kasihan sekali hidupku..' dan akhirnya kau sadar betapa miris dirimu. Sepanjang hari hanya diam rumah. Membaca novel, corat-coret sana-sini, buka tutup laptop, menonton film bajakan, dan merasa iri malam harinya. Sekalipun kau sudah buat planning entah itu harian atau mingguan. Tetap saja, badanmu sulit sekali diajak keluar rumah, nyaman saja rasanya berada diantara kedamaian tanpa perlu berdesak-desakan mengantri atau bertemu orang banyak yang membuatmu malah merasa pusing. Baiklah, kini kau mengerti. Bahwa kau orang rumahan. Tak pantas liburan.

Coba pikirkan ini, apa isi kepala semua manusia di bumi sama? Apa selera seluruh insan tak berbeda? Apakah kebiasaan orang di jagat raya ini serupa? Kalau iya, pasti disaat yang bersamaan, orang-orang bumi secara serempak akan memenuhi satu tempat, sedang tempat yang sedang tak dikunjungi kosong melompong. Kenapa? Karena selera mereka sama, maka tempat dan waktu yang dipilih tentu akan sama, karena lagi, selera mereka sama, maka mereka pikir saat itu adalah waktu yang tempat untuk pergi kesana. Bayangkan bila semua orang seperti itu. Wah, sesak sekali sepertinya.

Kawan, hidup ini bukan tentang berapa banyak hartamu, atau berapa banyak temanmu, tapi seberapa engkau menikmati waktumu dan mencintai siapa dirimu. Ibarat hidup ini pabrik pangan, dan kau pemimpinnya, maka ketika kau jalani dan atur pabrikmu sesuai yang kau mau, kau tetapkan bahan pokoknya, harus seperti apa rasanya, maka makanan yang dihasilkan tentu akan seperti yang kau damba. Tak perlu kan gunakan pewarna tekstil dari pabrik sebelah untuk mewarnai makananmu? Pakai saja pewarna makanan yang memang seharusnya! Bila kau pakai, justru akan berbahaya. Ada baiknya, kau harus menatap lebih rendah untuk bersyukur segala yang kau punya. Tangan, kaki, mata, hingga napas sekalipun. Tak pernahkah berpikir betapa irinya mereka yang cacat fisik dengan anggota badan lengkap yang kau miliki? Atau, orang mati yang ingin hidup kembali? Bersyukur kawan.. Pun ada masanya ketika kita harus menatap cakrawala biru di atas kepala untuk dijadikan pemacu semangat prestasi. Seberapa tinggi elang terbang atau seberapa bebas camar mengangkasa. Bersyukur kawan..

Menyinggungmu yang seharian diam di rumah menghabiskan masa libur, hey! Itu bukan sebuah kesalahan, kau tahu? Kalau kau suka, yasudah! Kalau kau nyaman, yasudah! Mereka yang bepergian pun karena mereka suka! Tak usahlah ingin sama. Hanya saja, yang membedakanmu dengan mereka adalah bahagiamu. Orang rumahan sepertimu bahagianya murah, jadikan rumah sebagai surga kedua. Sama sepertiku :)

Comments

Popular Posts