Terimakasih Malaysia
Was taken on Saturday, 27th of April 2019
Yang terlintas dalam benak
siapapun itu ketika akan bertamu ke negeri orang adalah perasaan senang,
gembira, hingga tak kuasa lagi dibendung ingin cepat pergi rasanya. Begitupun
dengan kami berdelapan belas. Banyak yang kami siapkan khusus untuk
pemberangkatan nanti. Baju, makanan, hingga pertunjukkan seni. Terlebih, karena
bukan hanya sehari dua hari kami menetap disana, melainkan hampir seminggu dan
itu adalah durasi yang cukup lama. Meski jika dikenang kini, rasanya singkat
sekali. Untungnya, negeri tetangga jiran Malaysia tidak memiliki begitu banyak
perbedaan dengan bumi pertiwi ini. Nasi yang hampir digunakan dalam setiap
hidangan sekalipun itu hidangan cepat saji adalah nasi lemak, yang tak jauh
berbeda dengan nasi uduk, untuk lauk pauk nya sendiri dapat dibilang perpaduan
antara makanan melayu, China, India, dan Arab. Mungkin karena banyaknya etnis
tersebut yang tinggal disana. Tetap saja, kuliner Indonesia jauh lebih baik. Pun
dengan cuacanya yang sebelas duabelas. Turunnya hujan dan terik matahari yang
lebih menyengat dengan suhu yang lebih kering silih berganti, namun ada satu
yang membuat saya benar-benar tertarik, kebersihan dan penerapan safety first. Dilihat dari kebiasaan
membuang sampah secara terpisah, Malaysia dapat dibilang cukup jauh dengan
kebiasaan mayoritas penduduk Indonesia. Setelah makan, piring, sendok, dan sisa
makanan ditempatkan di kantong yang berbeda, sehingga lebih mudah dipilah mana
sampah yang dapat dan tidak dapat diolah serta digunakan kembali. Disepanjang
jalan pun begitu, bersih sekali. Meski di Negeri Eropa sana jauh lebih baik
lagi, namun sebagai sesama penduduk Asia Tenggara, saya takjub. Untuk aspek safety, saya lihat bagaimana mereka
begitu patuh pada batas trotoar dan aturan menyebrang, meski kendaraan masih
cukup jauh dan melaju dalam kecepatan rendah, mereka begitu tetap berhati-hati.
Jujur saja, saya tidak suka merendahkan Indonesia karena ini tanah kelahiran
saya, hanya saja untuk bagian yang rentan ini, ada baiknya kita perlu bergegas
menyusul.
Universitas Sains Islam
Malaysia tempat kami melakukan kegiatan adalah area kampus luas yang memiliki
banyak fakultas. Dengan mendasarkan syariat Islam, universitas ini juga menggunakan
pengantar wajib Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Kegiatan yang kami lakukan
disana benar-benar seru. Meski tahun ini seluruh pesertanya hanya berasal dari
Indonesia saja, namun kegiatannya tetap menyenangkan. Kegiatan yang paling saya
suka adalah Tie & Dye, dimana peserta diharuskan mewarnai kaos putih polos
dengan pewarna baju menggunakan berbagai macam teknik ikatan. Di malam ketiga,
acara resmi Grand Dinner diadakan. Setiap
perwakilan sekolah menampilkan persembahan dari masing-masing daerah. Ada Jawa,
Sunda, hingga Papua. Semuanya benar-benar menampilkan yang terbaik. Kami pun
demikian, mempersembahkan berbagai macam permainan sunda dalam bentuk
semi-drama musikal. Hari demi hari berganti, hingga tiba pada rangkaian acara
penutupan. Selama acaranya berlangsung, satu aula diselimuti suasana sedih
karena tak lama lagi akan berpisah dengan panitia yang berteman baik dengan
kami peserta.
Hingga kembali ke tanah air,
ada sesekali rasa rindu ingin kembali kesana. Kalaupun ada kesempatan, kenangan
lama tentu takkan sama. Dari kegiatan i-GSN jamboree selama seminggu, banyak sekali
pelajaran yang saya dapat. Tak peduli dari mana asalnya, tapi semua yang kami
lakukan adalah pelajaran berharga. Terutama untuk bumi Indonesia, saya belajar
bahwa sehijau apapun rumput tetangga di mata kita, rumput sendiri akan tetap
lebih bernilai. Aspek yang dirasa kurang mungkin perlu dimajukan, namun jangan
lupakan aspek lebihnya. Jangan hanya menilai satu titik hitam dalam kertas
putih. Ketika membandingkan kekurangan Indonesia, jangan pula lupakan banyak
sisi baiknya. Terimakasih Malaysia untuk segalanya, kini saya semakin cinta
Indonesia.

Comments
Post a Comment