Stop Telling Us What to Do
Ini adalah salah satu alasan mengapa saya tidak setuju dengan Patriarki. Saya setuju dengan emansipasi wanita dan kesetaraan gendernya. Dalam bahasan ini, mari kesampingkan dahulu pendapat agama. Perlu ditegaskan, gender adalah membedakan wanita dan pria berdasarkan budaya, sedangkan jenis kelamin membedakan pria dan wanita berdasarkan fisik. Patriarki sebenarnya sudah ada sejak manusia hidup semi nomaden dan berburu, dimana sang jantan pergi berburu dan sang betina sibuk mengurus anak, memasak, dan menjaga rumah. Pemikiran tradisional inilah yang eksistensinya masih terus terbawa arus hingga sekarang. Patriarki sejatinya banyak dijumpai pada kehidupan sehari-hari, contohnya adalah ketika orang tua mengomeli anak perempuannya yang melakukan hal buruk dan kotor seperti, ”hei, kamar anak perempuan gaboleh berantakan!” atau “masak, anak perempuan jorok?” dan kurang lebihnya demikian. Frasa ‘anak perempuan’ yang digunakan dalam konteks tersebut dengan kata lain mengartikan bahwa ketika anak perempuan tidak boleh kotor dan jorok, maka anak laki-laki adalah wajar hukumnya menjadi kotor dan jorok. Memang, bukanlah sebuah kesalahan menegur anak untuk menjadi bersih, akan tetapi, kalimat semacam itu yang ditujukan kepada si anak perempuan mendoktrin secara tidak langsung bahwa laki-laki berhak melakukan apa yang dilarang terhadap perempuan.
Fenomena tersebut tak jauh berbeda maknanya dengan apa yang saya alami sendiri belakangan ini. Seorang lelaki memerintahkan saya untuk tersenyum dengan alasan muka saya yang kecut dan jutek kurang enak dilihat dan dalam sebuah perkumpulan, salah seorang laki-laki menegur saya untuk merapikan jilbab saya karena katanya tidak enak dilihat namun, sungguh tak ada seorang pun kawan lain yang mempedulikan penampilan saya. Bilamana saat itu saya patuh dan dengan segera merapikan jilbab saya, maka secara tidak langsung itu menunjukkan bahwa kuasa seorang lelaki lebih tinggi dibanding wanita. Memerintahkan wanita seperti itu juga sebenarnya menimbulkan pandangan lain, bahwa seorang wanita harus hidup sebagai sosok yang manis, anggun, dan patuh. Bukankah mereka yang berkomentar demikian tidak tahu menahu mengenai apa-apa yang telah wanita tersebut lalui? Bukankah mengekspresikan kelelahan , kesedihan, dan kemarahan adalah manusiawi? Mengapa tetap memerintahkan wanita untuk apa yang harus ia lakukan? Wanita memiliki hak untuk berekspresi! Wanita tidaklah hidup sebagai pemanis hari-hari kaum lelaki! Lalu, dimana letak kesalahannya? Ialah ketika lelaki memerintahkan wanita untuk terlihat sempurna. Berhenti menegur hal-hal semacam itu. Maka dari itu, saya setuju mengenai kesetaran gender yang tidak membedakan stratifikasi hak antara wanita dan pria. Lain halnya dengan jenis kelamin, lelaki Tuhan takdirkan untuk menjadi seorang hamba yang memang lebih kuat fisiknya. Lagi, lain halnya dengan wanita atlet angkat beban atau pria sakit-sakitan, ppffttt. In point, men have no authority on women’s body. Stop telling us what to do. Stop it.
Fenomena tersebut tak jauh berbeda maknanya dengan apa yang saya alami sendiri belakangan ini. Seorang lelaki memerintahkan saya untuk tersenyum dengan alasan muka saya yang kecut dan jutek kurang enak dilihat dan dalam sebuah perkumpulan, salah seorang laki-laki menegur saya untuk merapikan jilbab saya karena katanya tidak enak dilihat namun, sungguh tak ada seorang pun kawan lain yang mempedulikan penampilan saya. Bilamana saat itu saya patuh dan dengan segera merapikan jilbab saya, maka secara tidak langsung itu menunjukkan bahwa kuasa seorang lelaki lebih tinggi dibanding wanita. Memerintahkan wanita seperti itu juga sebenarnya menimbulkan pandangan lain, bahwa seorang wanita harus hidup sebagai sosok yang manis, anggun, dan patuh. Bukankah mereka yang berkomentar demikian tidak tahu menahu mengenai apa-apa yang telah wanita tersebut lalui? Bukankah mengekspresikan kelelahan , kesedihan, dan kemarahan adalah manusiawi? Mengapa tetap memerintahkan wanita untuk apa yang harus ia lakukan? Wanita memiliki hak untuk berekspresi! Wanita tidaklah hidup sebagai pemanis hari-hari kaum lelaki! Lalu, dimana letak kesalahannya? Ialah ketika lelaki memerintahkan wanita untuk terlihat sempurna. Berhenti menegur hal-hal semacam itu. Maka dari itu, saya setuju mengenai kesetaran gender yang tidak membedakan stratifikasi hak antara wanita dan pria. Lain halnya dengan jenis kelamin, lelaki Tuhan takdirkan untuk menjadi seorang hamba yang memang lebih kuat fisiknya. Lagi, lain halnya dengan wanita atlet angkat beban atau pria sakit-sakitan, ppffttt. In point, men have no authority on women’s body. Stop telling us what to do. Stop it.
Comments
Post a Comment